Sabtu, 03 November 2012

Belajar Dari Video Clip (Part 2)

Lagi-lagi dengan video clip....
masih dengan gaya yang sama dijudul sebelumnya,
bercerita, tempo perpindahan shot yang cepat, shot yang banyak, dan setting yang Indah, serta visual bercerita
t.a.T.u penyanyi asal Russia dengan sebuah lagunya yang berjudul All about us.
terdapat tiga versi yang ada di youtube.
versi pertama, silahkan dilihat (VIDEO.1)


Ok, sekarang coba lihat versi keduanya (VIDEO.2)

 

Kedua videoclip ini merupakan video dari materi yang diambil dan diedit oleh tim yang sama. 
menurut anda mana yang lebih bagus, manarik, dan tepat? secara keseluruhan terasa lebih baik dari video yang pertama. kenapa? mari kita bahas ulasannya.
Si rambut pendek namanya Julia dan yang rambut panjang, namanya Lena.
videoclip ini punya 8 scene:
1. EXT. PARKIRAN RESTORAN - SORE
2. INT. RESTORAN - SORE
3. INT. MOBIL LENA - MALAM
4. INT. KAMAR APARTEMENT - MALAM
5. EXT. JALAN TROTOAR - MALAM
6. INT. MOBIL PRIA -MALAM
7. EXT. JALAN TROWONGAN - MALAM
8. EXT. DEPAN APARTMENT JULIA - MALAM

anda bisa lihat, ada beberapa shot yang berbeda pada versi yang pertama dan kedua.
perbedaan pertama:

Kira-kira menit ke 01.17 terjadi perbedaan pertama
Yaitu shot di video1 memiliki aksi dimana Lena yang seolah melihat ke samping, kemudian Julia dengan MS terus berjalan, shot selanjutnya long shot dengan eye level. aksinya sebuah mobil mendekati Julia. Julia kemudian melihat ke belakang. Kemudian shot selanjutnya diikuti dengan OTS Julia mendekati jendela mobil tersebut dan berbicara kepada si pria.
sedangkan video2 memiliki shot medium shot Julia yang melihat kearah belakang disusul dengan shot Lena yang ikut melihat kebelakang ditempat yang berbeda (mungkin shot tersebut dimaksudkan atau memiliki pengertian bahwa si kedua gadis memiliki hubungan yang erat, mereka bisa saling merasakan kejadian diantara yang satunya walaupun berbeda tempat) namun setelah divisualkan dan digabungkan pada kedua potongan tersebut, menurut saya, dua shot tersambung tersebut menjadi tidak filmis. Bukan karena konsepnya, tetapi karena tidak menarik/tidak ok secara aksinya saja, yang ketika tersadar sesuatu melihat kebelakang dan membelakangi kamera. Belum lagi shot ketika Lena menoleh menajadi blur.

Kira-kira dimenit ke 01.28 terjadi kesamaan lagi hingga shot selanjutnya Julia masuk ke dalam mobil LS. Sedangkan video2 disambut oleh shot Lena bernyanyi dengan gambar yang blur t.o.s CU.
Kesamaan video1 dan video2 kembali terlihat.

Hingga didurasi 02.05 Shot pada video1 adalah kaki dan pinggang si Julia dan pria. Shot video2 adalah Julia yang dicium oleh pria namun tertutup oleh bantal. Dan menurut saya ini cukup mengganggu. Tidak lebih baik dan boleh dihindari jika memiliki shot lain (mungkin juga karena berasa ga filmis tadi) tokoh ketutupan bantal dan bantal mendominasi frame.

Shot-shot kembali sama hingga 8 atau 9 shot kedepannya. Kira-kira dimenit ke 02.16 pada video1 aksinya adalah si Julia mengacungkan jari tengah kepada pria. Gambarnya OTS pinggang Pria yang baru bangun dari tempat tidurnya. walaupun tokoh (Julia) terlihat ngeblur, namun secara angle dan posisi kamera pada video1 terlihat lebih baik daripada video2 . sementara di video2 pada menit yang hampir sama dan dengan aksi yang sama, Julia terlihat mengacungkan tangannya kepada sesuatu yang tidak terlihat posisinya dengan arah kira-kira 60 derajat. Mungkin arah tunjuk si Julia kepada pria itu tidak berubah pada kenyataannya, namun letak kamera berubah dan menimbulkan perspektif yang berbeda.
Terlihat lebih baik untuk video1 mungkin karena garis aksi terlihat cukup jelas. Sementara video2 Julia melakukan aksi out frame jauh dari kamera namun pada video ini telah di cut sebelum ia keluar frame (dosen saya pernah bilang sebaiknya out/in frame, sedekat mungkin dengan kamera ternyata salah satu efek dari salahnya pergerakan aksi  atau penempatan kamera pada contoh seperti ini juga menyebabkan hilangnya rasa filmis).

Menit ke 02.21 terjadi perbedaan lagi pada video1, terdapat shot si pria memukul si Julia, kemudian shot reaksinya terlihat Julia yang berdiri jatuh kebawah. Pada video2 Julia jatuh dan sudah berada dibawah dengan close up dikarpet dan diantara kaca.
Video1, Shot selanjutnya adalah Julia jatuh dan menabrak kaca hingga membuat pahanya terluka. Dengan low angle, disambut dengan shot dari angle yang berbeda. sementara di video2, shot selanjutnya si pria terlihat sehabis memukuli Julia. Disambut dengan shot Lena menggeleng Diikuti dengan shot Lena menggeleng menyadari terjadi sesuatu pada teman sejenisnya (group duo ini membuat sebuah image untuk rumor pemasaran mereka, yang melekat atau menjadi ciri dari group mereka  adalah kalau mereka lesbi. Itu juga sengaja diperlihatkan melalui tema-tema videoclip mereka yang lainnya yang intinya bertema lesbi).
Setelah ini ada banyak shot yang sama. 

Dalam perjalanan didalam mobilnya selanjutnya, shot Lena bernyanyi lalu shot penyambung continuity dengan transisi wipe yang dibuat dari kamera.
Pada menit 02.24 video1 Julia berada dikarpet dengan pecahan kaca disekitarnya. Sementara divideo2 Lena menutup ponsel kemudian disambung dengan shot sedang bernyanyi. Sudah banyak terjadi perbedaan diantara kedua video yang sebenarnya sama ini, antara letak shot yang didahulukan dan bentuk scene yang sama dengan shot yang berbeda-beda.

Klimaks perbedaan yang mencolok dalam shot dan editing terletak pada shot didurasi 02.55 dimana ketika Julia menembakkan pistol kekepala pria, pada video 1 terlihat pria jatuh dengan tipe shot OTS julia-MS. Sedangkan pada video2 tidak diperlihatkan kematian pria Ini. hal sepert ini mengurangi ketegangan rupanya.
Dan lagi pria yang berteriak dengan tipe shot MCU dengan efek yang diberikan ternyata tidak semenarik video1 ketika darah darah muncrat ke dinding, (walaupun sebenarnya tidak ada special effect seperti difilm saw. seperti hancur-hancuran kepala, tetapi jatuhnya pria tersebut setelah darah muncrat sudah memperlihatkan kekerasan yang digambarkan secara langsung. ini seharusnya movie! karena video clip itu ditayang di Tv kakak! udah pasti kena sensor).

selain itu (pada video2 yang dibuat untuk lulus sensor) efeknya dengan perbesaran gambar secara cepat dan digantikan dengan black screen terlihat tidak menarik, walaupun itu adalah hal yang sudah dimaksimalkan semaksimal mungkin dari shot yang ada (kesalahan ini tidak terjadi pada editornya, tapi sebaiknya ganti materi shotnya. -->X: bikin lagi! Y: kalo ga ada gimana dong kk.. X: ya udahlah..).

Hanya saja kalo dilihat kenapa ada kain putih menempel didinding (pasti ini pura-puranya sudah ada sehingga noda darah yang muncrat dari kepala pemuda bisa terlihat jelas dikegelapan dan juga bata kamar tersebut gelap rupanya. Yahh, bisa bisanya art director lah. Dan sebenarnya untuk orang awam yang menonton keanehan kain putih itu tidak berasa kok).
Selebihnya semua hingga akhir durasi terlihat shot-shot sama.
Sebenarnya gambar dari kamera banyak yang kurang fokus. Kalo konsepnya ngeblur rada kebanyakan kayaknya. Tapi kalo memang shot itu dibutuhkan dan dianggap lebih baik digunakan, "kenapa tidak?" kenyataannya lebih bagus kayak dimenit ke 02.16.

Lightingnya ok kakak! Warna-warni lampu dan cahayanya dan konsepnya yang menunjukkan malam hari akhirnya mempengaruhi secara besar konsep lightingnya. Seorang dosen saya yang lainnya pernah berkata, kameraman atau sinematografer yang hebat debutnya dimulai atau terletak pada kehebatan dia menata cahaya. banyak orang bisa mengoprasikan kamera, tapi tidak banyak orang bisa mengatur lighting (itu tidak menandakan teori yang lain tidak penting, tapi praktek tentang lighting sebaiknya tidak terabaikan). sebab di Indonesia kameraman/sinematografer film melewati tingkatan untuk menjadi dewa kamera alias sinematografer film, karena dibawah naungan department yang sama, katanya untuk menghemat biaya produksi, sementara di hollywood lighting merupakan departmen sendiri. tapi beberapa sinematografer film hebat dIindonesia, (satu dewa dikenal dikampus saya) yang ketika menemukan kesalahan lighting pada frame nya bisa memberikan pengarahan dengan beberapa kata saja terkadang mereka melakukan satu sentuhan yang tepat. dikarenakan mereka mempunyai pengalaman di lighting.
---Dia tidak mampu menipu matanya sehingga membuat dia belajar banyak untuk tidak menipu matanya-- (Ok, bocoran buat kakak-kakak baru calon anak kamera selamat belajar keras tentang lighting yaaa..)

jika dilihat video1 merupakan video clip secara keseluruhan yang sempurna dan seperti judul pada video1 yang ada penejelasan --> Uncensored, yang artinya tanpa sensor, berarti video2 dibuat untuk menutupi shot-shot yang terlihat fulgar pada beberapa bagian yang ada.pada video yang lainnya (video1).

jika hal seperti ini sudah diperhitungkan dan memang ingin dibuat dalam 2 versi, saya tidak mengerti mengapa pada beberapa adegan ada beberapa shot yang sama namun memiliki posisi penempatan kamera yang berbeda. berarti shot fulgar yang ditutupi seperti ketika pria mencium leher gadis tertutup bantal, si gadis terjatuh pada meja kaca yang tidak diperlihatkan, si gadis memperlihatkan jari tengahnya ke pria namun diganti dengan hentakan tangan yang terlihat tidak jelas,..
semua shot tersebut dibuat belakangan, (tidak berlaku untuk wajah pria yang marah karena tembakan pistol, di video2 seperti pembesaran frame atau pengecilan resolusi -->mungkin ya kayaknya sih, tapi karena berlangsung sebentar dan karena fade putih yang cepat itu jadi ga terlalu berasa perbedaan resolusinya. dan selama itu menyelamatkan ya kayaknya bisa-bisa aja digunakan).

(nah, untuk filmmaker, perhitungkan tentang sensor, sebab ada banyak cara untuk menggantikan shot fulgar dengan shot lain yang bisa mengartikan sama dengan yang anda maksudkan, namun tidak mengubah pencapaian yang akan diterima penonton. saya pernah membaca mengenai videoclip dari sebuah boyband di negara lain-->(korsel maksudnya), membuat sebuah videoclip yang disensor karena dianggap terlalu sexy hingga harus ditayangkan diatas jam 10 malam karena tidak layak dilihat oleh umur dibawah 17 tahun. wah.. susah juga ya kalo sudah harus ditayangkan jam segitu.. mengurangi waktu promosi.

jadi apa yang terjadi dengan videoclip ini? apakah kejadiannya sama sehingga mengharuskan membuat versi kedua agar dapat ditayangankan disiang hari dan layak dilihat oleh semua umur? maklum saja, tv ditonton dari usia balita hingga lanjut usia. saya sangat mendukung bahwa video1 itu lebih keren dari pada video2, tapi video2 tidak begitu bagus, bukan karena disensor, melainkan karena beberapa shot berubah penempatannya, atau keadaanya sehingga terasa tidak filmis). 

(VIDEO.3) 












 
Nah?! apa lagi Ini? ada satu jenis lagi editannya..
dengan bentuk penuturan yang berbeda dari yang sebelumnya.
untuk video3 ini didurasi 1 menit 4 detik pertama, cerita yang tertangkap secara garis besarnya/ secara umunya adalah semua sama dengan cerita divideo1 dibagian awal.

Yaitu
"Julia datang bersama dengan Lena. terlibat pertengkaran dan berpisah pada jalan masing-masing. kemudian Julia bertemu seorang pria yang pada akhirnya mengajaknya untuk berkencan"

(pembukaan video clip adalah dari awal durasi hingga detik ke 01.15 yang sudah ditandai dengan terdeteksinya adanya KTP1 (Key turning point I) yang diambil dari klimaks menurut plot sesungguhnya. sebagai bentuk akibat.

urutan pola struktur naratif,
biar mudah kita pake parandaian ya:
A=andaikan saja=Perkenalan
B=andaikan saja=sebab
C=andaikan saja=akibat
 
        Awal                   Tengah        Akhir
(A->Perkenalan, B->sebab, C->akibat).

maka yang dicari di scene-scene selanjutnya adalah mengapa akibat tersersebut dapat terjadi seperti itu (Alias B)?

(A->Perkenalan, ?->sebab, C->akibat)---->

karenanya urutan berubah

         Awal                  Tengah        Akhir
(A->Perkenalan, C->akibat, B->sebab)


hingga berubah strukturnya karena yang diketahui lebih dulu adalah A->awal, C->Akibat, ?->sebab) si editor menciptakan hubungan naratif dengan waktu yang berpola nonlinear Alias A-C-B

Video ini juga berpola deduktif induktif. terlihat hanya di 1 menit pertama saja sudah dituturkan penuturan nya secara umum bahwa

"Julia datang bersama dan Lena. terlibat pertengkaran dan berpisah pada jalan masing-masing. kemudian Julia bertemu seorang pria yang pada akhirnya mengajaknya untuk berkencan"

ini adalah cerita yang bisa ditangkap selama 1 menit 4 detik pertama.
detik selanjutnya dari 01.06 ke 01.10 yang menggambarkan bahwa semua itu terlihat seperti sebuah ingatan dari benak Julia.
Dan dalam waktu 5 detik berikutnya .... hingga total durasinya sejak pembukaan awal videoclip adalah 1,15 detik, Julia telah membunuh seorang Pria!

kesimpulannya 01.15 pada tahap awal:
"Julia datang bersama dengan Lena. terlibat pertengkaran mereka berpisah pada jalan masing-masing. kemudian Julia bertemu dengan seorang pria yang mengajaknya untuk berkencan, Julia mengingat kejadian itu dalam benaknya, karena ia pada akhirnya telah membunuh pria tersebut."


cerita seolah baru dimulai perjalanannya di detik selanjutnya. apa penyebab pembunuhan tersebut?
dijelaskan di menit ke 01.16- hingga 01.40.

"Ohh, rupanya karena hubungan asmara yang memaksa hingga tidak berjalan dengan lancar"

dari durasi 01.40 ke  01.45 tergambarkan bahwa

"hal itu terjadi karena sebuah pertemuan"

durasi 01.45 ke 02.05 (pada durasi ini ada shot yang diulang-ulang mengikuti bentuk lagu, terasa membuat kesan potongan yang sudah saya nilai pada posisi nilai A, dalam potongan yang sepertinya sudah sangat dipikirkan, karena potongannya sudah berhasil membuat potongan yang membuat penontonya berpikir, sebenarnya bagaimana jalan cerita film ini, seperti konten/film yang disukai oleh pemikir-pemikir film yang biasanya berstruktur pola nonlinear, tapi image itu rusak gara-gara shot rancu yang diulang-ulang itu). padahal walaupun musiknya bergema seperti itu, editingnya juga tidak harus dilakukan seperti itu. apalagi ada shot yang diulang 2x walaupun tidak ada pengulangan musik.

saya beri perandaian:
seorang pria terlihat sangat tampan dengan jas lengkap dan berkelas, tiba-tiba membawa sebuah kaleng kumuh kecil.

ya, intinya menghancurkan kesannya yang dimata saya sudah high.

pada durasi itu kemudian diperlihatkan bagian anti klimaks pada alur plot yang sebenarnya yang menyatakan bahwa si Julia selamat dan baik-baik saja.

cerita tergambar seolah-olah dari senyum Julia pada Lena didetik 02.05 yang kemudian berlanjut hingga detik  02.47  bahwa ia telah melewati banyak hal dan ancaman hingga akhirnya memutuskan membunuh pria tersebut. Ada penekanan, dimana ketika si pemuda telah tertembak, namun ada kilas balik lagi bahwa Julia dipukuli dan dianiaya pria tersebut. dan semua ini ternyata telah menjadi ingatan dalam benak Julia.

sebenarnya durasi diatas 02.05 menurut saya sudah mulai ngaco. urutannya ceritanya mulai berasa ga diperhitungkan. sedikit-sedikit maksudnya ketangkap, sedikit-sedikit ga ketangkap. sedikit-sedikit, sedikit.. sedikit-sedikit, sedikit. sedikit kok sedikit-sedikit.

Tiba-tiba ada shot yang berbeda dari materi-materi awal. dimaksudkan sebagai shot metafora atau mungkin editornya ingin membuat type edit dari concept edit.
shot sebuah mobil terbakar bahwa ketakutan tersebut telah hancur. ada shot juga dimana ada seorang wanita bahagia yang membagikan bunga diakhir shot, mungkin ekspresi kebahagiaan tersebut merupakan simbol dari rasa kebebasan. namun berhati-hati dengan apa yang wanita itu pegang, yaitu mawar. sebenarnya tidak ada keterkaitannya dengan hubungan kebebasan, walaupun bisa memberikan tanda bahwa yang dilepaskan itu adalah wanita, karena mawar merah juga simbol dari sesuatu yang feminim.

Tapi, sayangnya ini adalah pemikiran jika saya selalu mencoba untuk memikirkan maksud editor, tetapi jika dilihat dari hasilnya,
shot-shot metafora tersebut jika dipisah mungkin (tapi nggak juga kayaknya) bisa menyimbolkan atau mengartikan, yang ingin dimaksudkan editor, tapi saya berpikir bahwa sambungan ini tidak tersambung didalam cerita atau kosep awal.
ini mengubah cerita! mengubah cerita itu bagus kalo nyambung. tapi ini sepertinya tidak nyambung.
dimana:
shot sebelumnya --> kilas balik si Julia menelpon Lena saat berada didalam mobil pria itu,
kemudian disambungkan dengan shot--> mobil yang terbakar,
dan diambung lagi dengan shot--> Julia dengan keadaan berbeda, terlihat lepas dan menyesal.

kalo diliat dari tiga potongan itu langsung, bisa aja representasi ceritanya:

"julia pergi dengan seorang pria, kecelakaan, mobilnya terbakar, entah ia mati atau selamat, ia terlepas dan dalam penyesalan"

(WHATT?! apakah kejadian sebenarnya? apakah semua itu hanya pemikiran Julia yang menjadi hantu penasaran dan tidak mengetahui kejadian sebenarnya? #APASIH.. hmmm... hanya pemikiran saja).

untuk dijadikan contoh concept edit ini tidak benar.

seperti film-film yang pernah saya tonton, dan saya menangkap bahwa hal tersebut bertujuan untuk mendukung penggambaran dalam suatu shot yang akan menggambarkan "perbandingan" konten dalam shot (biasanya sebagai perandaian, atau menggambarkan "seolah-olah seperti") hingga menujukkan ide (arti) dari shot sebelum/sesudahnya.

tapi berbeda shot metafora pada film surealis. sepertinya sah-sah saja jika tidak berada pada konten cerita, tapi tetap berada pada dua potongan shot yang menghasilkan kata "seolah-olah" dan punya makna keterkaitan yang mendukung film membingungkan (surealis) itu.

atau ini sedikit surealis? apalagi potongan shot-shotnya sudah nonlinear -->(struktur dramatik yang biasanya nyuruh penonton berpikir).
kalo enggak nonton Video1 versi pertamanya mungkin Video3 ini malah ceritanya agak sulit untuk dimengerti dan rada-rada rancu. videoclip3 ini bercerita, tapi begitulah pokoknya.    

***


Pernah berpikir bahwa membuat film jadi serumit ini? (saya yang nulis topik ini aja pusing). maka jangan dipikirkan. jika anda mau buat film, maka buatlah film anda (sambil belajarlah untuk benar dengan mengetahui teori). jangan tertunda karena takut salah/tersalahkan. ini hanya teori sebagai pendukung. Tapi ada banyak sekali orang besar didunia film yang melanggar teori (tapi kebanyakan mereka orang yang tahu teori). Yang penting berkarya dulu sebanyak-banyaknya, intinya, jangan takut salah.





Belajar Dari Video Clip (Part1)

Semester III yang lalu saya dan teman-teman diberi tugas untuk membuat tugas artistik, yaitu membuat video clip dari sebuah lagu (sebenarnya karena ini tugas artistik, penilaian tertinggi pasti berada pada konsep set dan latar, kostum, make up dan segala sesuatu yang berhubungan dengan artistik, namun karena melihat-lihat beberapa contoh video clip dari youtube, saya malah memiliki beberapa pemikiran dibidang lain).

karena berawal dari SELERA (jadi kontennya kita bahas dari apa yang dulu, 'sekarang juga' sering saya tonton).

saya adalah penggemar drama korea sejak kelas satu SMP sekitar tahun 2004an. (sebelumnya saya adalah penggemar drama china, telenovela).
Jadi dulu sebelum punya modem, kalo lagi main ke warnet, saya sering mencari tahu mengenai ost drama yang saya tonton di tv, lalu pada akhirnya pencarian itu akan memabawa saya pada musik-musik mereka yang lainnya yang lebih berbau pop, tapi pada saat itu saya tidak begitu mengetahui tren pop hip-hop karena pada saat itu tren pop hip hop dikorea juga sangat-sangat nge-tren baru dimulai sepertinya pada tahun 2004/2005an.

pada beberapa tahun sebelum tahun 2000 hingga 2005an, sepertinya korsel suka bikin video clip dengan konsep bercerita,  .  .

karena bercerita mereka suka memulai durasi minimal beberapa detik dari sebelum musik dimainkan, satu video clip mereka bisa berdurasi dari 5 sampai dengan 12 menit untuk satu lagu. beberapa waktu yang lalu bahkan saya melihat sejenis video clip bercerita dari seorang stars korsel yang diisi dari beberapa lagunya hingga mencapai durasi 30 menit, tapi mungkin ini dimaksudkan untuk program tv atau promosi mereka.

Apa yang tertangkap ketika saya menonton dari videoclip-videoclip itu?
hal pertama yang saya bisa saya lihat jelas sebelum masuk sekolah film, adalah IDE nya. ada aspek naratif didalamnya!  bagaimana didalam video clip saja saya bisa melihat film pendek untuk menikmati musik yang sebenarnya hal utama yang ingin disajikan.
buat saya ini menjadi menarik, belum lagi cerita dalam video clip tersebut sangat menarik sesuai dengan tema lagu.
video clip berIde cerita..... menarik bukan? (menarik ya kan ya kan ya kan??), sungguh menarik, terutama untuk konsep musik-musik pop yang biasanya nuansanya labih kepada drama.
 
yang kedua ini terasa dan terpikirkan setelah saya sekolah (kuliah maksudnya) disekolah film adalah pergantian gambarnya, bagaimana sebuah gambar bisa berganti dengan cepat dalam waktu sepersekian detik. cepat dan tidak terasa.
maka element yang terasa didalam videoclip tersebut ada empat, yaitu:

ada  banyaknya shot (berhubungan dengan banyaknya materi yang diambil sutradara),
seberapa banyak shot yang dipersiapkan sutradara bersama antek-anteknya untuk suatu scene berdasarkan konsep sebelumnya.

ada tempo cepat didalam perpindahan shot,
cara paling mudah mendeteksi rytme dalam sebuat scene terkonsep, adalah dengan melihat banyak pergantian gambar yang terasa cepat. (lambat bukan berarti tidak ada rytme, kalo ga ada rytme logikanya cuma ada 1 shot dong) hanya saja ketika shot itu dengan cepat berganti, konstan maupun tidak, maka rytme dari suatu scene ini sudah dapat dirasakan, (ini adalah cara termudah mengetahuinya, tidak perlu anak film yang mendeteksinya, orang awam juga tau, kalo ada tempo cepat---> (yang mengartikan rytme) didalam pergantian gambarnya) 
Nah, rytme yang terasa cepat hingga tidak hanya pada suatu keadaan, kadang kala tujuannya hanya sekedar memberi variasi agar mata penonton tidak merasa bosan pada suatu angle walaupun musik berjalan lambat, kadang kala percepatan tempo pergantian gamabar juga dikarenakan hal yang sudah dikonsep karena tempo musik juga terasa cepat, kadang kala juga alasannya dikarenakan mempunyai tujuan untuk memperpendek waktu sesungguhnya (didasarkan pula pada konsep dan materi yang sudah ada).

ada setting yang Indah
ada banyak shot tidak membuat mereka sembarangan membuat video clip. hal itu tetap terasa ketika anda melihat shot mereka yang secara grafis terlihat indah. entah itu terlihat dari setting, pencahayaan, tata kostum, ataupun komposisi, maupun warna semuanya mendukung keindahan grafisnya. 

yang ketiga adalah cerita panjang yang disajikan dalam waktu beberapa menit.
bagi penulis, sangat sulit untuk memperpendek cerita yang panjang ke dalam durasi yang ditentukan hanya dalam waktu beberapa menit. namun sepertinya menjadi sedikit lebih mudah untuk video clip. sering kali cerita dalam video clip, yang digambarkan terjadi dalam beberapa bulan namun dikisahkan dalam 6 menit dalam video clip. ternyata hal seperti ini selain digamabarkan dengan hanya beberapa scene dan shot penting, juga sangat tertolong dengan musik. video clip tidak mengharuskan dialog atau sound efek untuk selalu terdengar, karena hal terpenting didalam video clip adalah musiknya. selama gambar yang tertera mendukung drama kata-kata dalam lagunya, maka hal itu dianggap sah oleh penonton.

video clip seharusnya memiliki lipsing didalamnya. namun ada beberapa video clip bercerita yang tidak ada lipsingnya. bahkan terkadang tidak ada figur penyanyinya.

Beberapa contoh video clip
tanpa lipsing


Gimana? sedih yaa? hehe

lalu saya akhirnya mencoba melihat video clip dari beberapa negara lain.
ada lagu yang bagus namun video clipnya terasa biasa.
mungkin beberapa orang  menganggap hal tersebut sepele yang penting lagunya bagus. namun pengertian seperti itu sangat disayangkan menurut saya, kerena salah satu yang membuat menarik untuk (seseorang memulai mendengarkan, mengikuti, maupun melihat suatu konten) pendengar sendiri terkang adalah sebuah visual.
kita hidup dijaman digital dimana semua sudah serba Audiovisual.
mungkin hal ini terdengar miris untuk para pemusik, karena sebuah lagu tidak selalu dinilai dari musiknya murni. tapi itulah yang terjadi didunia industri dimana segala sesuatu diproduksi untuk dijual.
sebagai contoh, kita tidak bisa meletakkan sebuah materi secara murni. kita tidak bisa menjual mahal sepotong cake hanya dengan potongan cake tersebut tanpa apa pernak-pernik seperti coklat, atau buah cerry diatasnya.
saya pernah tertarik pada sebuah lagu karena visualnya. gara-gara melihat visualnya yang terlihat seru dan menghibur, saya jadi senang memutar musiknya.
setidaknya dari pendapat saya ini, sisi positifnya adalah, pemusik juga harus memikirkan video clip mereka bagaimana video clip tersebut bisa membuat lagunya semakin disukai.

nah, ketika hip hop korea telah populer, saya menjadi peminatnya. lalu saya menonton benyak video clip mereka, dan hasilnya pendapat saya tidak jauh berbeda dari sebelumnya, hanya saja ada sedikit tambahan yang berbeda karena konsep yang berbeda, namun tidak jauh berbeda dari sebelumnya, banyak dari mereka yang menyisipkan cerita didalam video clipnya untuk lagu melow, namun banyak juga yang 100% tidak ada ceritanya, videoclip hanya dikarakter oleh setting, latar yang biasanya di studio, kostume, pencahayaan, dan dance.

contoh video clip yang semakin menarik karena visual
(ngomong-ngomong saya lagi suka sama videoclip yang ini kakak, ada ceritanya, secara grafis video ini penuh warna, banyak camera movement, dan editing nya ok gitu, walaupun gradingnya berasa. juga video ini memenuhi syarat secara hatiiiiii --> boybandnya cakep-cakep*)


Contoh videoclip yang Tidak Ada Ceritanyaaa


tapi ngomong-ngomong video clip ini memang makan banyak biaya kayaknya. dan mereka memang "niat" buat bikin kejutan.

Lihat juga kilas pembuatannya



Pada akhirnya untuk pembelajaran pun saya tetap melihat video clip pada lagu yang saya suka (aduuh.. selera-seleraaa sulit terlepas dari sana). namun konteksnya tidak dari korea lagi.
nah lagu ini juga populer ketika saya SMP, dan mirisnya saya belum pernah lihat video clipnya. lalu akhirnya saya mencoba untuk melihatnya, pada akhirnya saya terkagum kembali. videoclip tersebut merupakan video clip dari t.a.T.u penyanyi asal Rusia yang berjudul All about us. terdapat tiga versi yang ada di youtube.

segera kita ulas di Belajar Dari Video Clip (Part2)




Selasa, 31 Januari 2012

Mr. Bean's Holiday

Sebenarnya tulisan ini sudah saya buat dari sebelum masuk ujian, namun belum finish BYD (bacaan yang disempurnakan), nah sekarang mari kita bahas satu film dengan genre Komedi
Sutradara           : Steve Bendelack
Produser            : Peter Bennet-Jones
Tim Bevan
Eric Fellner
Rowan Atkinson
Skenario            : Hamish McColl
Robin Driscoll
Cerita                : Simon McBurney
Starring             : Rowan Atkinson
Emma de Caunes
Max Baldry
Willem Dafoe
Jean Rochefort
Karel Roden
Sinematograf i    :    Braz Irvine
Editing               :
Release            :
Tony Cranstoun
24 Maret 2007 - Inggris, Perancis

Pasti anda sudah pernah nonton film ini. Film komedi ini juga sering ditayangkan dilayar televisi.

ide cerita dari Mr. Bean's Holiday "perjuangan akan membuahkan hasil yang baik" film ini adalah sesimpel judulnya. tidak memiliki kesan yang tersembunyi. namun karena pelakunya adalah Mr.Bean, maka orang-orang akan segera mengerti perjalanan ini pasti akan menjadi sebuah petualangan yang rumit.
proses pencapaian klimaks tersebut yang tidak sesimpel judulnya. dari proses perjalanan tersebut banyak orang yang akan ia temui, dan mewarnai perjalanannya menuju pantai riviera di perancis selatan.
menonton Mr. Bean, saya yakin semua orang akan mengetahui ending ceritanya, karena Mr.Bean adalah salah satu icon "komedi" dan dia bukan seorang tokoh tragedi.


seperti yang kita tahu image yang ditampilkan oleh Mr.Bean sejak kemunculan pertamannya di tv adalah sebuah karakter yang sangat kuat dengan ciri-ciri tersendirinya (karakter yang selalu tidak banyak bicara namun bertingkah laku aneh). Keanehan Mr. Bean ini adalah semua sumber cerita.

jika sebuah Ending telah diketahui atau dapat dipastikan oleh penonton, maka sebaiknya adegan-adegan saat proses menuju klimaks adalah adegan-adegan yang sangat manarik dan mewarnai cerita karena pada cerita-cerita seperti itu proses adalah yang terpenting.

ada jenis cerita yang ketika anda kehilangan beberapa adegan dipertengahan cerita membuat anda tidak bisa mengerti hingga akhir, bahkan ending film.
ada juga cerita yang ketika anda kehilangan beberapa adegan, tetap membuat anda bisa melanjutkan keadegan selanjutnya hingga mencapai akhir.
tipe yang pertama sudah pasti merupakan tipe yang mengaharuskan penonton untuk mengikuti cerita sejak awal film ditayangkan hingga akhir film (maksa abis)
sedangkan tipe yang kedua adalah tipe film yang bisa membuat penonton jenuh, jadi pada tipe film kedua ini proses HARUS dibuat menjadi sangat penting.

sebagai ilustrasi,
anda akan meninggalkan ruang teater bioskop untuk beberapa saat, misalnya karena ke kamar kecil, berarti ada beberapa adegan yang akan anda lewatkan.
untuk tipe pertama ketika anda menonton film ke bioskop,
film pertama ini biasanya seperti  film-film action, atau drama. contohnya film Next. jika anda melewatkan 1 adegan saja dalam film ini maka anda bisa saja tidak mengerti dengan adegan selanjutnya atau bahkan mungkin akhir ceritannya. kemudian akan ada pertanyaan "emangnya tokohnya (protagonis) tadi kenapa?"
(sayang sekali jika anda mengeluarkan uang ke bioskop adalah untuk bertanya)
untuk tipe ke dua, contohnya adalah film Mr. Bean's Holiday. jika anda meninggalkan beberapa adegan dari film ini maka anda tetap bisa mengetahui akhir ceritannya, namunnnnn......, sebenarnya anda telah melewatkan hal terpenting dalam film tersebut karena, bagian-bagian paling menghibur terletak pada pertengahan film tersebut.
jadi sebenarnya kedua tipe tersebut dibuat agar anda tetap menyaksikan film dari awal hingga akhir film dengan cara yang berbeda.



film ini merupakan salah satu contoh film modern yang benar-benar menjadikan visual sebagai media utama dalam penyampaian cerita. jadi suara memang hanya sebagai pelengkap memperindah saja,
ketika menonton film ini kembali beberapa bulan yang lalu, saya menontonnya tanpa subtitle. betul-betul hanya melihat gambarnya, dan ternyata saya mengerti alur ceritanya.

Tanya kenapa??
karena film ini merupakan film yang berbicara melalui bahasa tubuh, mimik wajah, dan gerakan subjek atau objek yang terjadi didalam adegan.
dengan kata lain minim dialog, tapi tidak berarti minim musik dan sound effect.

musik bahkan banyak mendukung dalam film ini. hampir disetiap adegan penting ada musik.
memberi emosi, dan membangkitkan suasana. misalnya adegan pada saat Bean meminta seorang pria untuk mengambil videonya dalam perjalanan sebelum menaiki kereta, pria itu ketinggalan kereta kerena Bean. maka pria tersebut mengejar kereta dan melihat ke arah anaknya yang berada didalam kereta.
lihat visual, dan dengarkan musiknya, tempo yang cepat sesuai dengan kecepatan ayah tersebut berlari. menciptakan suasana ketegangan, awalnya Mr. Bean menganggap permasalahan ketinggalan kereta itu adalah hal yang sepele.ketika Mr. Bean mengetahui bahwa seorang anak meneriaki pria itu dengan sebutan "papahh !!!" maka  Mr. Bean mulai memberi ekspresi kaget, bahwa ia telah melakukan sebuah kesalahan yang lebih besar. scene itu juga bisa dikatakan contoh dimensi ritme internal (dimensi editing->dimensi ritmis) karena ada gerak subjek, dan sedikit gerak kamera. namun yang paling terasa adalah tempo musik yang sejalan dengan adegan.

sebagai pengantar, saya ingin menjelaskan terlebih dahulu untuk sebuah tolak ukur film bisa dikatakan bagus. Film itu memang dibentuk oleh dua aspek, yaitu aspek naratif dan aspek sinematik. namun sebuah konsep film yang baik untuk sebuah cerita, belum tentu baik untuk jenis cerita yang lain. ilmu film tidak seperti ilmu matematika yang 1+1=2. Artinya kita tidak bisa mendevinisikan film itu bagus atau jelek karena film tersebut tidak menonjolkan-->(kata ini bukan berarti tidak ada) semua unsur-unsur pembentuk film. jadi kalo kata dosen saya itu "tergantung konsepnya seperti apa".

namun biasanya untuk film dokumenter dan fiksi, hal yang biasa ditonjolkan adalah:
1. aspek naratif didalamnya
ex: ada pula film yang unsur naratifnya adalah kekuatan utamanya contohnya film Children of heaven, Spring, Summer, Fall, Winter... and Spring, Hachi: A dog's tale dll
2. menonjolkan aspek naratif dan sinematiknya.
ex: ada film yang bisa menonjolkan semua unsur pembentuk film. dengan kata lain film itu menarik dicerita dan menonjol diteknis--> baik itu artistik, visual efect, special efect, pergerakan kamera, gaya editing, kreatif  penciptaan suara dll. contohnya film Resident Evil 1-4, Twilight, My wife is gangster 3, dll

dan pada film eksperimental:
1. anda bisa menonjolkan aspek sinematik, atau
2. aspek naratif dan sinematiknya (tapi biasanya aspek naratif tidak jelas atau sulit dimengerti)
  
jadi apa maksud penjelasan diatas? yaaakk kita masuk penjelasan lagi,
Sebuah konsep film itu ditentukan berdasarkan tujuan yang tergambar dari ide film tersebut.
bisa kita golongkan berdasarkan genrenya (penglihatan secara umum).
ex : pada konsep film action yang biasanya bertempo cepat, seharusnya mempengaruhi editing dan pergerakan kamera. oleh karena itu biasanya pada film-film action lebih banyak mempelihatkan teknis. namun kenapa terjadinya aksi? sebaiknya ada cerita didalamnya (selama itu bukan film eksperimental).
nah, hal yang terjadi pada film action tidak bisa diterapkan pada film-film yang bergenre Drama (yang banget-banget ya). karena film drama itu biasanya adalah film yang lebih berdasarkan dengan ekspresi dan pemikiran. sehingga temponya lambat. pergerakan kamera dan editingnya juga mengikuti tempo yang lambat. sehingga biasanya lebih santai dan teknisnya tidak begitu terlihat seperti difilm Action.

jadi apa kebutuhan film anda? semuanya kembalikan pada kebutuhan film anda (<--untuk kalimat ini dosen saya yang bilang)

yah, sudah sepanjang ini ngolor-kidul....
jadi maksudnya apa?!
hmmm....

Film Mr. Bean Holiday ini tidak begitu menonjol pada teknis, lebih kuat pada Aspek Naratif :)
 
Film itu adalah sebuah karya seni. lahir dari kekreativan kita.
membuat orang lain terhibur, senang, takjub, pada karya anda itu tandanya adalah sebuah keberhasilan bagi pembuatnya (kalimat ini sudah sangat menjelaskan bahwa saya tidak beraliran eksperimental -_-')
ketika hal itu dirasakan oleh penikmatnya bagus, maka kita sebagai penikmatnya akan melihatnya seperti seseorang yang sedang jatuh cinta. menikmati kemudian merasa senang, tanpa syarat.

mungkin saat membuatnya pun kita membuatnya tanpa syarat. namun dari kekreativan tersebut, sungguh tidak ada ruginya anda mengetahui banyak teori. kurang lebihnya itu akan mempermudah anda dilapangan. walaupun definisinya tidak harus serumit saat UTS/UAS, tapi dengan mengingat apa yang kita pelajari setidaknya kita sudah bisa menerka hal-hal dilapangan apa yang mungkin belum pernah kita lakukan.
(kalimat ini terilhami dari pengalaman dan statement orang lain)

menurut saya, tokoh terbaik yang pernah diperankan Rowan Atkinson adalah Mr. Bean. meskipun kabarnya Rowan tidak mau lagi untuk memerankan tokoh Mr. Bean, namun setelah menonton film terbarunya yang lain dan lebih verbal dibandingkan dengan filmnya di Mr. Bean Holiday, saya bertambah yakin bahwa Rowan malah menjadi tidak lucu ketika ia banyak diberi dialog, ia justru lebih baik tidak bicara dan melakukan berbagai aksi yang aneh.